Pemutaran dan Diskusi Film Dokumenter DI BALIK FREKUENSI

_DSC0118

Suasana saat pemutaran film Di Balik Frekuensi

Kinne Komunikasi, Laboratorium Progdi Ilmu Komunikasi bekerjasama dengan Rumah Produksi Gambar Bergerak menyelenggarakan pemutaran dan diskusi film dokumenter berjudul Di Balik Frekuensi, pada tanggal 2 Mei 2013 di Ruang Penida Noor FISIP UPN Veteran Jawa Timur. Film ‘Di Balik Frekuensi’ merupakan film bergenre feature documentary yang memiliki durasi 144 menit. Film ini diproduksi oleh Gambar Bergerak dan sutradara Ucu Agustin, mencoba mengungkap kondisi media, khususnya televisi saat pasca-reformasi.

Acara yang diselenggarakan sejak pukul 08.00 wib ini, menghadirkan Dra. Dyva Claretta, MSi; anggota komisioner KPID Jawa Timur sekaligus Dosen Ilmu Komunikasi sebagai narasumber. Pemutaran dan diskusi film ‘Di Balik Frekuensi’ diikuti oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi yang terdiri dari mahasiswa yang mengambil matakuliah Hukum dan Etika Media Massa, anggota laboratorium film, televisi, radio, dan fotografi.

_DSC0163

Duet MC: Ridwan & Catherine bersama Yoyo, saat sebelum sesi diskusi

“Film ini melakukan pendekatan yang sangat intim atau personal, dengan menampilkan sosok Luviana, pak Hari dan pak Harto…” komentar Cahyo ‘Yoyo’ Wulan Prayogo; salah satu young documentary filmmaker dari Surabaya yang sekaligus sebagai moderator pada sesi diskusi.

_DSC0230

Sesi diskusi film Di Balik Frekuensi

Pada sesi diskusi yang diselenggarakan setelah pemutaran film ‘Di Balik Frekuensi’, Dra. Dyva Claretta, MSi sebagai narasumber memberikan gambaran tentang bagaimana sebagian besar televisi nasional melakukan framing atas kepentingan konglomerasi media. Salah satu contoh nyatanya adalah maraknya isi tayangan televisi yang menampilkan kepentingan kampanye salah satu partai atau tokoh politik tertentu. Seperti yang ditampilkan dalam film tersebut.

Selain itu, beliau juga menjelaskan bahwa masyarakat seharusnya memiliki kekuatan paling besar untuk turut membantu Komisi Penyiaran Indonesia (KPI dan KPID) dalam melakukan pengawasan terhadap isi siaran media. Hal tersebut menjawab pertanyaan beberapa audience yang mempertanyakan tentang siapa yang memiliki power paling besar untuk mengawasi isi siaran televisi?

_DSC0237

Salah satu penonton yang turut serta dalam sesi diskusi

Namun pada kenyataanya sangat ironis kondisi masyarakat Indonesia yang heterogen dimanfaatkan oleh pemilik media. Perbandingan masyarakat Indonesia yang ‘melek media’ dengan yang tidak ‘melek media’, masih sangat lebar. Pada akhir diskusi, Dra. Dyva Claretta, MSi mengingatkan pada mahasiswa Ilmu Komunikasi untuk tidak menerima tayangan televisi secara mentah-mentah, melainkan mampu mengkritisi dan menyaring pesan yang disampaikan oleh media massa.

_DSC0223

Sesi diskusi bersama Dra. Dyva Claretta, MSi berlangsung selama 1 jam

Pemutaran dan Diskusi Film ‘Di Balik Frekuensi’ ini adalah bentuk partisipasi terhadap #pakanmaydaybersama_DBF yang merupakan program pemutaran film ‘Di Balik Frekuensi’ yang dilakukan secara serentak di Indonesia.

_DSC0210

Ruang Penida Noor dipadati 105 penonton

Categories: Umum | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: